Tag Archives: Ubud

Monkey Forest (Hutan para monyet), tempat bermukimnya para monyet, Ubud Bali

Ubud Monkey Forest (Wanara Wana) merupakan cagar alam dan kompleks candi di Ubud-Bali. Taman ini adalah rumah bagi sekitar 340 monyet yang dikenal sebagai monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Ubud Monkey Forest adalah obyek wisata populer yang sakral di Ubud dan banyak dikunjungi oleh lebih dari 10.000 wisatawan per bulan.

 

Hutan Monyet, Ubud, Indonesia (Wikipedia)
Pembuat : Merbabu

 

Padangtegal Wenara Wana Ubud Monkey Forest Foundation dan desa kerja Padangtegal bekerjasama untuk mengelola dan mengoperasikan Ubud Monkey Forest dan juga untuk menjaga kesucian taman dan mempromosikan situs suci ini sebagai tujuan wisata.

 

Kuil Dalem Agung Padangtegal, Monkey Forest, Ubud, Ubud, Gianyar, Bali, Indonesia
GNU Free Documentation License (Wikipedia)

 

Monkey Forest yang terletak di Desa Pakraman Padangtegal Ubud Village memiliki total luas 10 hektar merupakan fokus bagi wisatawan, karena daerah ini memiliki banyak bentuk pola perilaku alam dan kehidupan dengan suasana religius. Selain hutan dan melihat monyet yang tinggal langsung di alam liar, wisatawan yang datang ke sana juga dapat melihat bahwa ada tiga candi di Monkey Forest, obyek pariwisata yang dikenal oleh banyak negara, terkait dengan masyarakat adat Padangtegal. Alasannya berasal dari ikatan emosional, di mana struktur di tempat ini adalah surga di mana Pura Desa Adat Padangtegal sebagai “sumber kesucian” candi-candi lain di sana yang dinamai Pura (Temple) Agung Dalem.

Pura Dalem Agung terletak di sebelah barat daya dari hutan setempat. Candi ini adalah daya tarik utama di bukit Padangtegal dan merupakan tempat yang paling penting di hutan ini. Di daerah ini juga ada Prajapati candi, tempat kremasi yang terletak di sisi timur dan disepanjang parameter terdapat pemakaman. Dengan kegiatan sehari-hari dari orang-orang yang hidup dengan cara tradisional dan religius, membuat Monkey Forest memiliki area luas untuk objek wisata budaya para turis.

Di hutan monyet ada juga Candi Semi Kudus. Dalam candi ini Anda dapat membuat permohonan dengan melemparkan koin ke dalam kolam ikan. Adanya pengembangan Monkey Forest dimulai sekitar tahun 1970. Kondisi yang jauh berbeda dengan saat ini. Pada awalnya hutan yang penuh dengan monyet tidak mendapatkan banyak perhatian. Kotak sumbangan disediakan untuk mendapatkan kontribusi guna pembiayaan dan pemeliharaan daerah tersebut.

Jumlah wisatawan yang mengunjungi dan melihat monyet di wilayah tersebut membuat Monkey Forest di Bali menjadi sangat populer. Pengembangan lebih lanjut dalam upaya untuk melestarikan keberadaannya dimulai dengan diberlakukannya tiket masuk kepada pengunjung dengan harga terjangkau.

Di pintu masuk pengunjung dapat membeli pisang untuk diberikan kepada ratusan monyet di hutan. Monyet di sini lebih ramah daripada monyet di tempat yang berbeda seperti di Uluwatu dan Sangeh, karena penjaga rutin memberi mereka makan, 3 kali sehari. Setelah memasuki kawasan tersebut, pengunjung atau wisatawan akan disuguhi pemandangan hutan yang lebat. Sebuah sungai yang mengalir melewati hutan menambah keindahannya. Sebagian besar pengunjung tertarik oleh kegiatan dari berbagai monyet.

Ratusan monyet abu-abu dibagi menjadi lima kelompok besar yang memiliki teritorial masing-masing dan memiliki seorang pemimpin yang berbeda. Antara satu kelompok dan kelompok lain hidup terpisah dalam batas-batas wilayah mereka. Jika salah satu monyet melewati ke batas monyet lainnya maka akan ada perkelahian antara kelompok monyet. Keseriusan desa adat untuk mengelola objek wisata ini dapat dilihat dari perlakuan yang lebih profesional untuk daerah itu.

Monkey Forest dalam hal ini tidak hanya sebagai fokus objek wisata di daerah tersebut, tetapi desa tradisional disekitarnya sekarang ini juga berusaha untuk membuka daerah pariwisata untuk mengembangkan desa yang ada disana. Salah satu caranya adalah dengan mendirikan Pusat Data dan Informasi Desa Adat Padangtegal.

Monkey Forest di samping sebagai obyek wisata, juga merupakan pusat konservasi. Monyet-monyet di tempat itu tidak hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai komponen penting dalam kehidupan spiritual dan kehidupan masyarakat setempat,  yangmana keberadaannya tempat itu dipakai sebagai tempat penelitian dari lembaga peneliti di seluruh dunia.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, monyet-monyet itu nomaden. Setiap kelompok memiliki kehidupan sendiri. Pemimpin group selalu diikuti oleh kelompoknya. Monyet Bali kebanyakan betina (matrilines) sedangkan monyet-monyet jantan biasanya bermigrasi.

 

Dengan salah satu monyet betina

 

 

Makan pisang dengan santainya..

 

Salah satu kelompok monyet

 

Monyet-monyet berkeliaran disekitar kuil

 

Monyet betina dengan anak-anaknya di depan kuil.

 

Dengan salah satu pemimipin kelompok :))

 

Dia tidak mau melepaskan tangan saya! 😀

 

Para monyet bercengkrama 🙂

 

 Lokasi Monkey Forest