Tag Archives: Pantai/ Laut

“Tanah Lot” Salah satu tempat fantastis di Bali

Tanah Lot merupakan salah satu obyek wisata terkenal di Pulau Bali, terletak di Desa Beraban, Kediri, Kabupaten Tabanan. Jaraknya sekitar 13 km ke arah barat dari kota Tabanan. Dari Bandara Ngurah Rai dapat dicapai dalam waktu kurang dari 1 jam perjalanan.

 

Pura di atas batu besar di tengah laut
Photographer : Anton Raharja

 

Pura tepat dibelakang saya

 

Tanah Lot adalah obyek pariwisata yang menyuguhkan keindahan alami terutama pada saat matahari tenggelam. Keunikan dari Pura di Tanah Lot yaitu dikarenakan pura tersebut berada di tengah-tengah lautan sekitar 300 meter dari pantai. Selain itu juga di batu yang besar tersebut terdapat gua besar di tengah-tengahnya.

 

Gua yang ada di tengah batu besar

 

Gua ini juga sebagai tempat upacara keagamaan umat Hindu, memohon perlindungan kepada dewa laut.

 

Di sini masih ada dua pura yang terletak di atas batu besar. Satu terletak di atas batu yang , besar yang ketika ada gelombang tinggi candi akan terlihat dikelilingi oleh air laut dan yang lainnya terletak di sebelah utara, di bagian atas tebing, menjorok ke laut. Tebing ini menjadi penghubung antara kuil di tengah laut dan daratan dan berbentuk seperti jembatan lengkung.

Pura Tanah Lot sebagai sebuah kuil di tengah laut adalah tempat ibadah untuk dewa-dewa penjaga laut. Biasanya pengunjung akan datang pada sore hari untuk melihat matahari terbenam yang indah.

 

Di atas bebatuan  Tanah lot

 

Tanah Lot berasal dari kata “Tanah”  dan “Lot” berarti laut. Jadi Tanah Lot diartikan sebagai tanah yang ada di tengah laut. Pura Tanah Lot didirikan pada abad ke-15 oleh seorang imam Hindu bernama Danghyang Nirartha dari Kerajaan Majapahit (di Pulau Jawa) dalam perjalanannya untuk menyebarkan agama Hindu dari tanah Jawa pada abad 16. Sebelum memberikan petunjuk untuk mendirikan sebuah kuil di tempat ini ia merasakan getaran kemurnian dan memperoleh kesempurnaan spiritual.

Menurut Legenda, Danghyang Nirartha yang berhasil memperkuat kepercayaan masyarakat setempat tentang ajaran agama Hindu, pemimpin suci di tempat itu yang bernama Bendesa Beraban merasa terancam karena banyak pengikutnya menjadi pengikut Danghyang Nirarta. Kemudian Bendesa memerintahkan Danghyang Nirartha untuk meninggalkan Tanah Lot.

Danghyang Nirartha menyetujuinya, tetapi sebelum meninggalkan Tanah Lot dengan segala kekuatannya ia memindahkan blok batu ke tengah pantai dan membangun candi/ kuil di sana. Ia juga mengubah syal menjadi ular sebagai penjaga kuil. Ular tersebut masih ada sampai hari ini dan mereka adalah spesies ular laut yang memiliki ekor datar dengan karakteristik seperti ikan yang menpunyai warna hitam dan kuning bergaris. Bendesa Beraban kagum dan kemudian akhirnya menjadi pengikut Danghyang Nirartha.

Dalam beberapa terowongan kecil di sekitar tebing karang Pura Tanah Lot adalah tempat dimana ular bergaris yang jinak berada dan dipercaya oleh masyarakat sebagai penjaga kuil. Disekitar kuil terdapat mata air murni yang dapat dilihat saat air surut. Keberadaan mata air ini juga yang menjadi pertimbangan utama ketika tempat ini dipilih sebagai lokasi kuil.

 

Pemandangan indah  Tanah Lot
Photographer : Anton Raharja

 

Tanah Lot saat ini dikelola secara profesional dengan dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Tiket masuk termasuk asuransi kecelakaan dan untuk setiap kendaraan yang memasuki lokasi Tanah Lot asuransi kecelakaan secara langsung dicover (ditutup) oleh biaya parkir.

 

 

Keindahan Matahari tenggelam di Tanah Lot Bali

 



Malin Kundang legenda dari pulau Sumatera

Malin Kundang adalah cerita rakyat yang berasal dari Sumatera Barat dan merupakan salah satu legenda Indonesia yang mempunyai pesan moral. KisahMalin Kundang menceritakan tentang anak yang durhaka pada ibunya dan karena itu ia dikutuk menjadi batu. Suatu bentuk batu yang terletak di “Pantai Air Manis”, Padang, Sumatera Barat-Indonesia.

 

Pantai Air Manis, tempat terdapatnya batu Malin Kundang Sumber :Flickr: The Legend of Malinkundang - West Sumatra Pembuat : Makka Kesuma Dibawah lisensi Creative Commons Atribusi 2.0 Generik
Pantai Air Manis, tempat terdapatnya batu Malin Kundang
Sumber : Flickr: The Legend of Malinkundang – West Sumatra
Pembuat : Makka Kesuma
Dibawah lisensi Creative Commons Atribusi 2.0 Generik

 

 

Malin Kundang tinggal di keluarga nelayan miskin. Karena kondisi keuangan yang buruk, ayahnya memutuskan untuk mencari nafkah ke luar negeri, mengarungi lautan. Setelah ditinggalkan oleh ayahnya, Malin Kundang tinggal sendirian bersama ibunya di gubuk mereka. Ayah Malin tidak kembali lebih dari satu tahun, sehingga ibunya harus menggantikan ayah Malin untuk mencari nafkah. Malin adalah anak yang cerdas tetapi sedikit nakal, ia sering mengejar ayam-ayam dan memukuli mereka dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu sehingga lengan kanannya terluka dan meninggalkan bekas luka.

Merasa kasihan pada ibunya yang bekerja keras untuk mencari nafkah untuk membesarkannya, Malin memutuskan untuk pergi mengembara dengan tujuan menjadi kaya setelah pulang nanti. Pada awalnya ibu Malin Kundang tidak setuju mengingat suaminya juga tidak pernah kembali setelah pergi mengembara, namun Malin bersikeras, sehingga akhirnya ibunya menyerah dan membiarkan Malin pergi, naik kapal milik pedagang. Selama tinggal di kapal Malin Kundang belajar tentang ilmu berlayar pada awak kapal yang telah berpengalaman.

Dalam perjalanannya, tiba-tiba kapal yang ditumpangi Malin Kundang kapal diserang oleh bajak laut. Semua barang dagangan pedagang yang berada di kapal dibajak oleh perompak. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang di kapal tersebut dibunuh oleh bajak laut. Malin Kundang beruntung, ia bersembunyi di ruang kecil tertutup oleh kayu sehingga ia aman.

Malin Kundang terkatung-katung di tengah laut, sampai akhirnya kapal itu terdampar di pantai. Dengan energi yang tersisa, Malin Kundang berjalan ke desa terdekat. Ia menemukan sebuah desa yang sangat subur dan ia mulai bekerja disana. Dengan kegigihannya dalam bekerja, Malin akhirnya menjadi orang kaya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya Malin Kundang menikah.

Berita tentang Malin Kundang yang telah menjadi kaya dan telah menikah sampai ke telinga ibunya. Dia sangat bersyukur dan bahagia bahwa anaknya telah berhasil. Sejak itu setiap hari ia pergi ke dermaga menunggu anaknyayang mungkin kembali ke kampung halamannya.

Setelah beberapa tahun pernikahannya, Malin dan istrinya berlayar, didampingi oleh kru kapal dan banyak pengawal. Ibu Malin melihat kedatangan kapal ke dermaga, ia melihat dua orang berdiri di dek. Dia percaya bahwa anak dan istrinya yang berdiri di sana.

Dia menuju ke kapal dan pada saat jaraknya cukup dekat dengan anaknya, dia melihat bekas luka di lengan kanannya, ia semakin yakin bahwa itu adalah Malin dan ia mendekat, memeluk dan bertanya: “Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar? “. Melihat seorang wanita tua berpakaian kotor memeluknya, Malin Kundang menjadi marah meskipun dia tahu bahwa wanita tua itu ibunya, dia malu jika hal tersebut diketahui oleh istri dan krunya.

Mendapat perlakuan seperti itu dari anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Dia tidak menduga bahwa anaknya bisa menjadi anak durhaka. Karena kemarahan memuncak, ia mengutuk anaknya dan berkata : “Oh Tuhan, jika dia adalah anak saya, saya mengutuknya menjadi batu.”

Tidak lama setelah itu Malin Kundang kembali berlayar, namun di tengah perjalanan datang badai dahsyat menghancurkan kapalnya. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan secara bertahap membentuk menjadi terumbu karang. Sampai saat ini batu Malin Kundang masih dapat dilihat di sebuah pantai yang disebut “Pantai Aia Manih” (bahasa Padang) atau “Pantai Air Manis”, yang terletak di selatan kota Padang, Sumatera Barat.

 

Pemandangan Gunung dan laut di Padang, Sumatera Barat, Indonesia

 

Tempat lokasi batu Malin Kundang di Padang



Nyai Roro Kidul ( Queen of the Southern Sea of Java)

Author :Kadika, This file is available under the terms of the license Creative Commons Attribution – Share Alike 3.0 (unimplemented) .

Nyai Roro Kidul adalah sosok seorang wanita cantik yang menguasai pantai selatan Jawa, dia roh yang baik yang sangat ingin membantu orang dalam segala macam kesulitan. Berdasarkan kepercayan Jawa, Ratu Kidul adalah Dewi Nawang Wulan, malaikat dari surga,yang dulunya merupakan istri Jaka Tarub (Jaka Tarub legenda akan dibahas pada artikel berikutnya), dan mereka memiliki anak-anak, yang kemudian dari keturunan Dewi Nawang Wulan dan Jaka Tarub akan lahir raja-raja Jawa.

Dewi Nawang Wulan yang setelah kembali ke Surga, kurang diterima dengan baik di Surga sehingga kembali ke bumi dan bermeditasi di Laut Selatan. Meditasinya mmbuat laut menjadi bergolak, membuat Raja laut selatan, Panguoso Sagoro menjadi marah, dan ada perang di antara mereka, perang kecerdikan dan argumentasi. Pemenangnya adalah Dewi Nawang Wulan, dan membuat  Dewi Nawang Wulan menjadi Ratu Laut Selatan.

Kesimpulan tentang Ratu Laut Selatan bukan hanya dongeng atau takhayul saja. Ini adalah hal yang nyata ada, tapi itu tidak termasuk dalam alam manusia, melainkan dalam alam roh, yang dapat mengontrol sifat manusia dan roh dan dia dapat disebut sebagai Dewi Alam, dan Dewi Laut.

Orang Jawa percaya bahwa Nyi Roro Kidul memang ada dan terkait erat dengan Sultan Yogyakarta. Kepercayaan pada Ratu Laut Selatan diaktualisasikan dengan baik. Upacara adat diselenggarakan di pantai selatan Yogyakarta pada setiap ulang tahun Sri Sultan Hamengkubuwono (raja Yogyakarta). Upacara ini dimaksudkan untuk mendapatkan kesejahteraan Sultan dan penduduk kota Yogyakarta.

Kepercayaan kepada Ratu dari Laut Selatan meluas sampai ke daerah Jawa Barat. Ruangan khusus (nomor 308) di lantai atas Hotel Ocean Beach, dipersiapkan oleh obyek wisata Pelabuhan Ratu (salah satu tempat wisata di Jawa Tengah), khusus untuk Ratu Laut Selatan. Dalam ruangan ini terdapat lukisan Nyai Roro Kidul,  dengan semua-warnanya yang hijau dan bau dupa ikut mendekorasi ruangan ini. Siapapun yang ingin bertemu dengan Ratu dapat masuk ke ruangan ini, tetapi tentu saja harus melalui perantara, yang menyajikan persembahan untuk Ratu. Ruangan ini juga digunakan oleh mantan presiden pertama Indonesia, Presiden Soekarno.

Beberapa orang menyebutkan bahwa Ratu tinggal di “kamar No 13”. Kebenaran Nomor kamar tidak dapat benar-benar dibuktikan dan sepertinya bukan hanya nomor 308 yang dipercaya.

Di zaman modern ini, legenda Ratu Laut Selatan, atau Nyi Roro Kidul adalah legenda yang paling spektakuler. Banyak dari Indonesia atau dari negara lain mengakui bahwa mereka telah bertemu ratu cantik yang mengenakan pakaian tradisional Jawa dalam warna hijau. Karena hal ini, orang-orang di sekitar “Pelabuhan Ratu” percaya hijau yang merupakan warna favorit dari Sang Ratu. Jika ada pengunjung pantai selatan yang juga mengenakan baju berwarna hijau, maka Ratu akan menyeret jiwa mereka untuk menjadi seorang hamba. Jadi mitos yang tersebar luas adalah larangan mengenakan pakaian berwarna hijau ketika mengunjungi pantai selatan.

Sebenarnya ada penjelasan rasional yang berkaitan dengan alasan keamanan mengenai pakaian hijau. Ketika kita berenang, terseret gelombang dan pada saat itu mengenakan pakaian hijau, maka akan sulit bagi tim penyelamat untuk menemukannya. Hal ini juga terjadi di semua pantai, karena air laut biru, akan, berubah warna menjadi hijau ketika bertambah dalam, korban tenggelam akan disamarkan oleh warna air laut. Jadi lebih baik untuk menggunakan pakaian yang berwarna terang.

Banyak cerita bahwa banyak orang tenggelam dikarena mengenakan baju hijau, seperti dijelaskan di atas, yang mana orang-orang di sana mengatakan bahwa tubuh korban diambil oleh Ratu, karena Ratu tidak suka melihat orang memakai baju hijau sehingga membuatnya marah dan menjadikan korban sebagai tumbal. Sebenarnya kejadian banyaknya orang yang tenggelam tidak seperti itu ceritanya. Itu dikarenakan adanya keberadaan palung, persimpangan antara dua lempeng tektonik, juga disebut parit dasar laut, berbentuk seperti celah batu. Jadi korban yang tenggelam bisa saja terbanting dan terseret ke dalamnya dan kemudian terjepit di antara celah batu,  itulah mengapa tubuh Korban tidak muncul. Versi lain mengenai Sang ratu dari Wikipedia