Tag Archives: objek wisata

Batu ajaib dari tanah Minang, Padang, Sumatra Barat.

Batu ajaib, terletak di kawasan Batu Sangkar, kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat telah terkenal karena keunikannya. Batu ajaib disebut Batu Angke oleh penduduk daerah itu. Batu ini istimewa karena beratnya yang berubah-ubah.

Untuk menuju tempat wisata Batu Angke batu yang terletak di Kecamatan Batu Sangkar dibutuhkan waktu sekitar tiga jam perjalanan dari Kota Padang. Rupanya batu ajaib itu sudah mulai dikunjungi wisatawan sejak 100 tahun yang lalu. Selama waktu itu sudah tujuh generasi menjaga warisan yang unik tersebut.

Batu Angke bisa begitu berat atau bisa sangat ringan seperti kapas, sesuai keyakinan orang yang mengangkatnya. Dikatakan bahwa pada batu itu ada kekuatan magis. Dalam bahasa Minang, Angke-Angke berarti “Angkat”, jadi Batu Angke berarti batu yang diangkat.

Membaca doa adalah aturan sebelum mengangkat batu. Banyak dari pengunjung kelelahan karena batu ini beratnya bisa mencapai ratusan kg di tangan mereka. Dalam rangka untuk mengangkat batu itu tidak dikenakan biaya, hanya untuk membeli suvenir dikenakan harga hanya Rp. 10.000,-

 

Batu Ajaib

 

Tidak semua orang bisa mengangkatnya, bahkan pria sekalipun.

 

Wanita yang menjaga lokasi Batu Ajaib dengan mudah dapat mengangkatnya.

Legenda Batu Gantung, legenda kota Parapat di Sumatera Utara

Pada zaman dahulu kala di sebuah desa kecil di tepi Danau Toba, tinggalah sepasang suami istri dengan seorang putri cantik bernama Seruni. Selain cantik, Seruni juga seorang gadis yang rajin karena dia selalu membantu orang tuanya pada saat mereka bekerja di ladang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Suatu hari Seruni harus bekerja di ladang sendirian karena orang tuanya ada keperluan di desa tetangga. Seruni hanya ditemani anjingnya yang bernama Toki. Sesampainya di ladang, Seruni hanya duduk termenung sambil menatap keindahan alam Danau Toba, sementara Toki duduk di sampingnya, menatap wajah majikannya yang tampak murung. Sekali-sekali Toki menggonggong untuk mengalihkan perhatian Seruni jika ada sesuatu yang mencurigakan disekitarnya.

Sebenarnya sudah beberapa hari Seruni tampak sedih, dikarenakan ayahnya akan menjodohkannya dengan seorang pemuda yang adalah sepupunya sendiri, padahal Seruni sudah menjalin hubungan dengan seorang pria muda di desanya dan telah berjanji untuk menikahinya. Situasi ini membuatnya bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan dan mulai putus asa. Di satu pihak dia tidak ingin mengecewakan orangtuanya, tapi di sisi lain dia tidak mampu untuk berpisah dengan kekasihnya.

Setelah berpikir sejenak dan tidak bisa memutuskan apa-apa, Seruni bangkit dari tempat duduknya dan dengan air mata mengalir dia berjalan pelan menuju ke Danau Toba. Sepertinya dia ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat ke danau. Sementara Toki yang juga mengikutinya ke danau hanya bisa menggonggong karena tidak tidak tahu apa yang akan Seruni lakukan.

Saat berjalan menuju ke tebing di tepi Danau Toba, tiba-tiba ia terjatuh ke dasar lubang batu besar yang sangat gelap. Seruni ketakutan dan berteriak minta tolong pada anjing kesayangannya, tetapi Toki hanya seekor anjing, dia tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menggonggong di sekitar mulut lubang. Akhirnya dia menjadi putus asa dan berkata pada dirinya sendiri, “Ah, aku lebih suka mati.”.
Setelah mengatakan itu, entah mengapa dinding lubang mulai menutup. “Parapat …! Batu Parapat!”, Seruni berteriak untuk membuat dinding batu lebih merapat dan meremas tubuhnya. (Parapat dalam bahasa mereka adalah bergerak lebih dekat).

Melihat kejadian tersebut, Toki berlari ke rumah untuk meminta bantuan. Sesampainya di rumah ia segera berlari ke orang tua Seruni yang sudah di rumah. Menggonggong, menggaruk tanah dan mondar-mandir di sekitar tuannya, Toki mencoba untuk memberitahu mereka bahwa Seruni berada dalam bahaya.

Menyadari apa yang diisyaratkan Toki, mereka segera pergi ke ladang. Keduanya berlari mengikuti Toki ke tepi lubang di mana putri mereka jatuh. Ketika ayah Seruni mendengar jeritan puterinya dari lubang, ibunya segera membuat obor karena hari telah malam dan gelap sedangkan sang ayah berlari kembali ke desa untuk meminta bantuan dari para tetangga.
Ketika para penolong tiba, dengan air mata berlinang ibu Seruni berkata kepada suaminya, “Lubang itu terlalu dalam dan gelap. Aku hanya mendengar suara samar putri kita yang mengatakan:. Parapat, Parapat batu …”

Beberapa kali mereka berteriak memanggil Seruni, namun tidak ada jawaban. Hanya suara Seruni itu yang samar memerintahkan batu di sekelilingnya untuk bergerak lebih dekat. Warga yang berada di sana mencoba untuk membantu dengan mengulurkan tali ke dasar lubang tetapi sama sekali tidak disentuh atau dipegang olehnya. Merasa khawatir, sang ayah memutuskan untuk masuk ke dalam lubang, tapi istrinya melarang, karena lubang itu sangat dalam dan berbahaya.

Tiba-tiba ada suara gemuruh dan guncangan kuat, membuat lubang akhirnya perlahan tertutup. Seruni yang terjebak di dalam lubang tidak bisa diselamatkan.

Beberapa saat setelah guncangan berhenti, di atas lubang yang telah tertutup ada sebuah batu besar yang menyerupai tubuh seorang gadis yang tampak menggantung di dinding tebing di tepi Danau Toba. Orang-orang yang melihat kejadian tersebut percaya bahwa batu itu manifestasi dari Seruni dan kemudian menamai batu tersebut dengan sebutan Batu Gantung.

Karena kata-kata terakhir dari Seruni yang didengar oleh warga hanya “Parapat, Parapat, dan Parapat”, maka daerah sekitar Batu Gantung dinamai Parapat. Parapat kini telah berubah menjadi kota tujuan wisata di Provinsi Sumatera Utara.

 

Batu Gantung ,Parapat, Sumatera Utara

 

Parapat
Pemandangan kota Parapat dari arah Danau Toba
Pembuat : Bessel Dekker, Lisensi : Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported

 

Pelabuhan Parapat, danau Toba, Sumatra Utara
Pembuat : Nomo Michael Hoefner
Lisensi Creative Commons Atribusi-Berbagi Serupa 3.0 Unported

 



Sangkuriang, legenda Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat

Sangkuriang adalah legenda yang sangat populer di kalangan masyarakat Sunda (di tanah Sunda, Jawa Barat-Indonesia). Legenda ini menceritakan kisah seorang pemuda yang mencoba untuk memiliki cinta dari seorang wanita cantik yang ternyata ibunya sendiri. Cerita Sangkuriang menjadi legenda di balik kisah adanya Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat.

Pemandangan Gunung Tangkuban Perahu dari kejauhan

Tangkuban Perahu
Tangkuban Perahu
Pembuat : Feureau, Sumber: wikipedia
License: Creative Commons Attribution-Share Alike 2.5 Generic

 

Crater of Tangkuban Parahu
Kawah Tangkuban Parahu
Sumber: wikipedia, Pembuat : CHJL

Asap belerang yang keluar dari kawah

 

Pada zaman dahulu kala, di tanah Parahyangan (tanah Sunda), ada sebuah kerajaan yang sangat makmur. Rajanya suka berburu dengan ditemani anjingnya yang bernama “Tumang”.

Suatu hari, setelah seharian berburu, raja tidak mendapatkan hasil yang diharapkan. Hewan-hewan yang akan diburunya seperti menghilang. Dalam frustrasinya, Raja terkejut oleh gonggongan Tumang yang setelah dilihat ternyata anjingnya itu menemukan seorang bayi perempuan cantik, terbaring di antara pagar rumput. Raja sangat senang melihatnya, karena sudah cukup lama belum dikaruniai anak. Bayi perempuan itu kemudian diberi nama Dayangsumbi (Puteri Dayangsumbi).

Setelah tumbuh dewasa, Puteri Dayangsumbi menikah dan dikaruniai seorang putra yang bernama Sangkuriang, tapi sayangnya suami Dayangsumbi tidak memiliki umur yang panjang. Sangkuriang sangat suka berburuseperti kakeknya.

Suatu hari, Sangkuriang yang masih sangat muda pergi untuk berburu didampingi Tumang, anjing favorit rajayang juga favorit ibunya. Tetapi hari itu bukan merupakan hari yang baik, perburuan tidak mendapatkan hasil. Karena Sangkuriang telah berjanji untuk memberikan hati rusa kepada ibunya, sementara rusa itu tidak didapat, maka Sangkuriang membunuh Tumang dan mengambil hatinya, yang kemudian diberikan kepada ibunya.

Ketika Dayangsumbi akhirnya mngetahui bahwa hati rusa yang disajikan oleh anaknya adalah hati Tumang, anjing kesayangannya, ia menjadi sangat marah. Didorong oleh kemarahan, dengan tidak sengaja ia memukul kepala anaknya dengan sendok beras yang ada di dekatnya pada saat itu, tindakan itu menyebabkan cedera dan meninggalkan bekas di kepala Sangkuriang. Sangkuriang merasa usahanya untuk membuat ibunya senang tidak ada gunanya, dan dia merasa tidak bersalah. Dia berpikir kalau tidak ada hati rusa, hati anjingpun tidak menjadi masalah, dengan tanpa memikirkan kesetiaan Tumang yang telah mengabdikan hidupnya untuk melayani tuannya. Setelah kejadian itu Sangkuriang meninggalkan kerajaan dan kemudian menghilang.

Setelah kejadian itu Dayangsumbi merasa sangat menyesal, setiap hari ia selalu berdoa dan meminta kepada Tuhan untuk dapat bertemu kembali dengan anaknya. Di kemudian hari permintaannya itu akan terkabul dan oleh kasih karunia Tuhan juga, Dayangsumbi tetap awet muda.

Sangkuriang yang terus berpetualangan tumbuh menjadi seorang pemuda gagah dan kuat. Dia telah berhasil menaklukkan iblis yang kuat. Dalam perjalanan petualangannya, Sangkuriang tidak menyadari bahwa ia menuju ke kerajaan tempat ia berasal dan mempertemukannya pada seorang putri cantik, yang tidak lain putri Dayangsumbi, ibunya sendiri. Sangkuriang segera jatuh cinta dengan sang putri, Dayangsumbi juga terpesona oleh ketampanan dan kegagahan dari Sangkuriang. Lalu terjalinlah hubungan antara keduanya. Sangkuriang maupun Dayangsumbi saat itu tidak mengetahui bahwa mereka sebenarnya ibu dan anak. Sangkuriang akhirnya melamar Dayangsumbi untuk menjadi istrinya.

Suatu saat tabir terbuka, Dayangsumbi mengetahui bahwa pemuda itu adalah puteranya. Dia melihat bekas luka di kepalanya ketika dia membantu memperbaiki ikat kepala calon suaminya, Sangkuriang.

Setelah yakin bahwa Sangkuriang adalah anaknya, Dayangsumbi berusaha menggagalkan pernikahannya. Kemudian Dayangsumbi mengajukan dua syarat yang harus dipenuhi oleh Sangkuriang apabila ingin menikahinya, dengan batas waktu sebelum fajar (matahari terbit). Syarat pertama, Sangkuriang harus dapat membuat perahu besar. Syarat kedua, Sangkuriang harus dapat membuat danau yang dapat digunakan untuk perahu berlayar. Dayangsumbi berpikir bahwa Sangkuriang tidak akan berhasil memenuhi persyaratannya itu, yang sengaja diberikan agar tidak terjadi pernikahan antara ibu dan anak.

Sangkuriang setuju, ia bekerja lembur dibantu oleh kekuatan iblis yang pernah dikalahkan olehnya. Kayu kayu besar untuk membuat perahu dan untuk memblokir sungai Citarum ia dapatkan dari hutan di gunung, yang menurut kemudian gunung itu diberi nama Gunung Bukit Tunggul.

Sementara itu Dayangsumbi juga meminta Tuhan untuk membantunya menggagalkan keinginan Sangkuriang untuk menikahinya. Tuhan mengabulkan permohonan Dayangsumbi. Sebelum pekerjaan Sangkuriang selesai, ayam berkokok, dan fajar menyingsing. Sangkuriang menjadi sangat marah karena ia telah gagal. Ia menendang perahu yang telah dibuat. Perahu itu jatuh tertelungkup dan kemudian menjadi legenda Gunung Tangkuban Perahu (gunung yang berbentuk seperti perahu yang tertelungkup), sedangkan sungai yang dibendung oleh Sangkuriang untuk membentuk danau adalah sungai Citarum yang terletak di Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

 

 Illustrasi cerita Sangkuriang

Illustration of the story about Sangkuriang
Ilustrasi cerita tentang Sangkuriang
Lisensi Dokumentasi Bebas GNU
Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0.

 

Keindahan dan Legenda Kawah Putih-Ciwidey di Bandung Selatan

Kawah Putih (White Crater) adalah salah satu dari dua kawah yang membentuk Gunung Patuha di Jawa Barat Indonesia.

 

Lokasi kawah putih yang tampak di  peta, di Bandung Selatan- Ciwidey

 

Keindahan danau  kawah putih

 

Pohon yang tumbuh di danau kawah putih

 

Asap yang keluar dari danau

Patuha dianggap oleh masyarakat Ciwidey sebagai gunung tertua. Kata “Patuha” konon berasal kata tua (sepuh), sehingga masyarakat setempat menyebutnya dengan nama Gunung Sepuh. Lebih dari satu abad yang lalu Gunung Patuha dianggap angker, sehingga tidak ada yang berani untuk pergi kesana dan oleh karena itu keberadaan dan keindahan gunung tersebut tidak diketahui oleh masyarakat.

 

Cerita Legenda Kawah putih yang terpampang dalam bingkai besar di dapan kawasan kawah putih

 

Menurut catatan sejarah, gunung Patuha pernah meletus pada abad kesepuluh, menyebabkan kawah yang berbahaya di  sebelah Barat atas. Pada abad kedua belas, kawah di sebelah kiri juga meletus, yang kemudian membentuk danau yang indah.

Pada tahun 1837, seorang Belanda keturunan Jerman bernama Dr Franz Wilhelm Junghuhn (1.809-1.864), melakukan perjalanan ke bagian selatan wilayah Bandung. Ketika ia tiba di daerah tersebut Junghuhn merasakan suasana yang sangat tenang dan sepi, satwa liar sangat sedikit. Kemudian ia bertanya tentang fenomena ini kepada masyarakat setempat, dan ia mendapat informasi bahwa gunung itu sangat menakutkan, karena di tempat itu tinggal nenek moyang mereka, dan juga kerajaan jin (setan), dan menurut anggapan mereka jika ada burung yang berani terbang di atas daerah itu, maka burung tersebut akan jatuh dan mati.

Namun Beliau tidak percaya pada cerita masyarakyat setempat dan melanjutkan perjalanannya melalui padang gurun di gunung itu untuk membuktikan apa yang sebenarnya terjadin di daerah itu, tapi sebelum sampai ke puncak gunung, Junghuhn tertegun, mengagumi pesona alam yang begitu indah di depannya, tampak sebuah danau yang besar, dengan airnya yang berwarna putih kehijauan. Dari danau, bau belerang sangat terasa, jadi jelaslah sudah mengapa burung tidak akan terbang melintasinya.

Setelah semuanya jelas, mulailah tambang belerang kawah putih didirikan (Zwavel Ontgining, Putih Kawah). Dalam era pendudukan Jepang, upaya dilanjutkan dengan judul “Kawah Putih Ciwidey Kenzanka Yokoya” langsung di bawah pengawasan militer.

Menurut Abah Kuncen Karna yang saat ini kurang lebih berumur 105 tahun pada saat menulis artikel ini dan tinggal di desa Pasir Hoe, Desa Sugih Mukti, mengatakan bahwa di kawah putih terletak makam leluhur.

Di puncak puncak gunung Patuha, yaitu Kapak gunung dipercaya sebagai tempat pertemuan para leluhur. Di tempat ini, kadang-kadang masyarakat melihat (dengan cara supranatural) sekelompok domba berbulu putih, yang diyakini sebagai manifestasi dari nenek moyang.

Pemandangan alam di sekitar kawah putih cukup indah, dengan air kehijauan-putih yang kontras dengan batu kapur yang mengelilingi danau. Di bagian utara danau berdiri tegak tebing kapur abu-abu, yang ditumbuhi lumut dan tanaman lainnya.

 

The cliff in white crater, which is filled with plants

 

Kawah putih dengan tebing yang mengelilinginya

 

Franz Wilhelm Jungjuhn sudah lama meninggal, tetapi penemuannya yang dikenal dengan nama Kawah Putih (Kawah Putih) tidak akan terupakan dan saat ini menjadi objek wisata yang indah bagi para wisatawan.

 

Kabut yang mulai turun

 

Pemandangan yang sangat menakjubkan

 

Betul-betul danau yang indah dari Kawah putih 

 

Di daerah Kawah Putih Danau ada sebuah gua, warisan dari era kolonial Belanda. Di depan gua ada peringatan untuk tidak berlama lama di depan gua. Alasan logisnya adalah karena gas yang keluar dari gua tentunya terkait dengan kandungan sulfur di daerah itu yang dapat menyebabkan orang keracunan oleh gas itu.

 

Gua peninggalan Kolonial Belanda 

 

Berpose sesaat di depab gua 🙂

 


View Larger Map