Tag Archives: Museum

Benarkah dengan cerita adanya hantu di museum Asia Africa?

Ada cerita di balik sejarah bangunan bersejarah (Gedung Merdeka), di mana diadakannya Konferensi Asia Afrika. Selain sejarah dunia, ada juga cerita hantu di gedung itu.

Ketika saya mengunjungi museum, saya berbicara banyak dengan beberapa penjaga keamanan di gedung itu, mereka berbicara tentang kengerian bangunan itu. Bangunan peninggalan Belanda sebagai salah satu negara kolonial di Indonesia pasti meninggalkan banyak kenangan. Bangunan yang lama dengan ciri khas Belanda memiliki cerita yang luar biasa bagi saya.

Mereka mengatakan kepada saya bahwa setiap hari mereka bertemu atau melihat banyak hantu di sana. Karena bangunan itu peninggalan Belanda, sehingga hantu yang banyak terlihat adalah hantu orang Barat.

Percaya atau tidak, tapi semua penjaga keamanan di sana memiliki pengalaman yang sama. Saya bertanya kepada beberapa diantara mereka, apakah itu benar? dan apakah mereka tidak takut? Mereka berkata, ya tentu saja mereka merasa takut, bahkan sampai sekarang, tetapi karena setiap hari mereka melihatnya, ketakutan mereka secara bertahap berkurang, hanya untuk pergi ke toilet di malam hari, mereka lebih memilih toilet wanita, karena menurut  mereka kamar mandi atau toilet laki-laki lebih menakutkan.

Saya tidak bertanya lebih detail tentang hal itu, karena mereka juga tidak ingin memberitahu lebih rinci tentang hal tersebut. Saya bisa merasakan kengerian di tempat itu, dan lagi pula banyak cerita hantu di kalangan masyarakat Indonesia, dan banyak orang Indonesia yang  percaya adanya hantu/ gaib. Banyak orang yang juga menyangkalnya termasuk saya, mungkin karena tidak ingin merasa takut dan sebagai orang Indonesia yang percaya adanya Tuhan, hanya doa cara yang ampuh untuk mengatasi rasa takut pada hal-hal yang  mistis.

 

Foto-foto di Museum Asia Afrika

Berakhirnya Perang Dunia II tidak berarti akhir dari permusuhan antara bangsa-bangsa. Di beberapa bagian dunia, masalah lama tetap ada, masalah baru muncul.

Gambar-gambar sesuai dengan urutan kejadian:

Pada tahun 1954, ketegangan terjadi di Indocina, sejak intervensi AS di Indocina dan perang Perancis, dikarena perang dingin menyebar ke Asia Tenggara. Perdana Menteri Ali Sostroamidjojo dari Indonesia menerima undangan dari John Kotelawala, Perdana Menteri Sri Lanka, untuk menghadiri konferensi yang akan dihadiri oleh lima perdana menteri dari : Sri Lanka, Burma, India, Pakistan dan Indonesia, diselenggarakan di Kolombo pada bulan April 1954. Konferensi kemudian ini kita namakan  Konferensi Colombo atau Colombo Plan. Lebih lanjut tentang konfrensi ini dapat kita dapat baca di wikipedia: Colombo Plan.

Perang Dingin

Apartheid

Kolonialisme

Salah satu tokoh kunci dalam Perang Dunia II

Menuju kebangkitan bangsa – Konferensi Bogor

Konferensi Bogor diadakan pada tanggal 28 sampai 30, 1954 di Istana Bogor dengan persetujuan dari Presiden Soekarno, di mana konferensi tersebut diadakan untuk membahas persiapan akhir pelaksanaan dari Konferensi Asia Afrika. Indonesia yang diwakili oleh Perdana Menteri Indonesia Ali Sostroamidjojo, dihadiri oleh Perdana Menteri Burma (Unu), India (Nehru), Pakistan (Moh.Ali), dan Sri Lanka (John Kotelawala)

“Bandung Walk” and Asia Africa Echoes from Bandung

Senin 18 April 1955, sejak fajar kegiatan yang meriah Pembukaan Konferensi Asia Afrika di kota Bandung telah dimulai sekitar pukul 08.30 pagi, delegasi dari berbagai negara berjalan dari Hotel Homann dan Preanger  ke Gedung Merdeka untuk menghadiri acara tersebut. Kegiatan mereka berjalan dikenal sebagai “The Walk History” (The Walks Bandung) atau sejarah berjalannya para delegasi dari hotel ke tempat konferensi.

Sidang Pembukaan Konferensi Asia-Afrika di “Gedung Merdeka” pada tanggal 18 April 1955

Diorama pembukaan Konferensi Asia Afrika

 Beberapa foto dari delegasi beberapa negara

 

Museum Asia Afrika Bandung

Museum ini bernama MUSEUM KONFERENSI ASIA AFRIKA-, dalam rangka untuk mengingat kembali sejarah tempat dari Konferensi Asia-Afrika, yang menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi bangsa Asia-Afrika.

Ide didirikannya dan diwujudkankannya adalah inisiatif dari Bapak Joop Ave, Ketua Eksekutif Komite 25th Anniversary yang bekerjasama dengan Departemen Penerangan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pemerintah Provinsi  Jawa Barat dan Universitas Padjadjaran.

Museum Konperensi Asia Afrika diresmikan oleh Presiden Soeharto, Presiden kedua Indonesia pada tanggal 24 April 1980 pada HUT ke 25 Konferensi Asia-Afrika.

Pada tanggal 18 Juni 1986, otoritas Museum dikembalikan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan kepada Departemen Luar Negeri di bawah pengawasan Direktorat Diplomasi Publik karena museum itu adalah sejarah diplomatik politik Indonesia.

 

Konferensi Asia Afrika di Bandung

Konferensi Asia-Afrika pertama yang digelar di Bandung Jawa Barat Indonesia pada tanggal18-24 April 1955 adalah momen yang sangat penting dalam sejarah bangsa Indonesia, kebijakan luar negeri pemerintah Indonesia. Hasilnya dari konferensi tersebut adalah Dasasila Bandung, yang menjadi pedoman bagi negara-negara terjajah untuk memperjuangkan kemerdekaannya.

 

Semangat Konferensi Asia Afrika menjadi motivasi bagi negara-negara Asia-Afrika. Hal ini juga mendorong generasi muda Indonesia dan negara-negara Asia Afrika untuk mendapatkan prestise yang lebih tinggi.

Konferensi Asia-Afrika diadakan atas undangan Perdana Menteri Burma, Ceylon, India, Indonesia dan Pakistan. Selain negara-negara mensponsori, 24 negara yang berpartisipasi dalam konferensi adalah :

1.Afghanistan, 2.Cambodia, 3.China, 4.Egypt, 5.Ethiophia, 6.Gold coast, 7.Iran, 8.Iraq, 9.Japan, 10.Jordan, 11.Laos, 12.Lebanon, 13.Liberia, 14.Libya, 15.Nepal, 16.Philippines, 17.Saudi Arabia, 18.Sudan, 19.Syria, 20.Thailand, 21.Turkey, 22.Democratic Republic of Vietnam, 23.State of Vietnam and 24.Yemen.

Konferensi Asia Afrika mendiskusikan berbagai masalah kepentingan bersama dan perhatian ke negara-negara Asia dan Afrika yang antara lain membahas tentang:

A. Kerjasama Ekonomi  dan Budaya B. Hak Asasi Manusia dan C. Penentuan nasib sendiri, D. Masalah kepentingan Masyarakat , E. Masalah negara lain (konflik Intern), F. Promosi Perdamaian Dunia dan menjalin kerjasama, G. Deklarasi mengenai promosi Perdamaian Dunia dan Kerjasamanya.

Konferensi Asia-Afrika menyatakan keyakinannya bahwa kerjasama yang baik dan sesuai dengan prinsip-prinsip yang secara efektif berkontribusi pada pemeliharaan dan promosi perdamaian serta keamanan internasional juga kerjasama di bidang ekonomi, sosial dan budaya akan membantu membawa kesejahteraan umum dan kesejahteraan semua.

 

Gedung Merdeka di Bandung pada saat diselenggarakannya Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955.

Conference Hall in “Gedung Merdeka”
“Gedung Merdeka” is the Building of the first Asian-Africa conference and serves as museum today.
Author : http://www.flickr.com/photos/94417372@N00
This file is licensed under the Creative Commons Attribution-Share Alike 2.0 

 

Gedung Merdeka pada tahun 2012 menjadi museum Konferensi Asia Afrika

57 HUT Konferensi Asia-Afrika (1955-2012)

 

Konferensi Asia-Afrika telah membawa angin segar dan menghidupkan kembali semangat moral para pahlawan Asia dan Afrika dalam perjuangan mereka untuk mencapai kemerdekaan, sehingga negara-negara yang menyatakan berdaulat dan merdeka, banyak yang bergabung dengan benua Asia dan Afrika.

Konferensi Asia-Afrika juga berhasil mengembangkan semangat solidaritas di antara negara-negara Asia-Afrika, menghadapi masalah-masalah regional dan internasional. Setelah Konferensi Asia-Afrika, banyak konferensi diselenggarakan oleh berbagai organisasi di Asia dan Afrika.

Sepuluh Prinsip Bandung (Dasasila Bandung) telah mengubah pandangan dunia tentang hubungan internasional dan mengubah struktur Perserikatan Bangsa-Bangsa yang tidak lagi hanya sebagai forum negara Barat dan Timur.