Tag Archives: Java

Prambanan, Candi megah lainnya yang ada di Indonesia

Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Asia Tenggara. Lokasinya yang tidak jauh dari Candi Borobudur seakan memperlihatkan tentang keselarasan antara umat Buddha dan Hindu di Jawa, bukan hanya di masa lalu tetapi juga pada saat ini. Secara administratif, candi ini terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta, 17 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, di tengah area yang kini dibangun taman yang indah.

 

Tiga candi  terbesar didedikasikan untuk Shiva, di sebelah kiri Brahma dan Vishnu di sebelah kanan. Pada bagian depan kuil-kuil ada vahana (kendaraan para Dewa)
Pembuat : Gunawan Kartapranata
Licensed under the Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported

 

 

 

Candi yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama Roro Jonggrang, memiliki legenda. Dulu ada seorang pemuda yang kuat dan magis yang ingin menikahi seorang putri cantik bernama Roro Jonggrang. Raja yang juga ayah dari sang putri pun memaksanya untuk menikahi “Bandung Bondowoso”. Dia adalah pangeran dari kerajaan tetangga. Roro Jonggrang tidak mencintainya tapi tidak mampu menolaknya. Setelah pertimbangan yang panjang, akhirnya dia memberi satu syarat kepada Bandung Bondowoso untuk membangun 1000 candi dan berjanji untuk menikah dengannya jika persyaratannya bisa diselesaikan sebelum fajar.

Roro Jonggrang meminta bahwa pekerjaan harus selesai sebelum ayam berkokok yang ia pikir itu tidak mungkin. Tapi dengan kekuatan magis, Bandung Bondowoso hampir bisa menyelesaikan 999 candi dengan bantuan jin dan kekuatannya.

Roro Jonggrang meminta para perempuan di desa untuk mulai memukul padi, dengan tujuan membuat ayam terbangun dan mulai berkokok. Bondowoso sangat kecewa dengan perilaku sang puteri, kemudian merubahnya menjadi batu yang sekarang dikenal sebagai Candi Prambanan, sedangkan candi di dekatnya disebut Candi Sewu atau seribu candi.

Candi Prambanan dibangun pada abad ke-9, yang didedikasikan untuk Dewa Shiva (perusak), dan dua di setiap sisi  didedikasikan untuk Dewa Brahma (pencipta) dan Dewa Wisnu (penjaga). Candi tertinggi adalah 47 meter, 5 meter lebih tinggi dari Candi Borobudur dan juga di antara candi-candi lain di sekitarnya. Berdirinya candi ini telah menunjukkan kejayaan Hindu di pulau Jawa.

 

Patung Mahadewa Shiva di Candi Lara Jonggrang, yang ada di komplek candi Prambanan 
Pembuat : Dr. W.G.N. (Wicher Gosen Nicolaas) van der Sleen (Fotograaf/photographer).
Licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported

 

Patung batu besar dengan 4 wajah Dewa Pencipta, Brahma yang terletak di garbhagriha (ruang utama)  kuil Brahma, Trimurti Prambanan  Yogyakarta, Indonesia.
Author : Gunawan Kartapranata
Licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported

 

Patung batu besar dari Dewa Vishnu (Dewa pemelihara) di ruang utama kuil Vishnu, Trimurti Prambanan, Yogyakarta, Indonesia.
Pembuat : Gunawan Kartapranata
Licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported

 

Prambanan juga memiliki relief candi yang berisi kisah Ramayana. Menurut para ahli, relief itu mirip dengan cerita Ramayana yang diturunkan melalui tradisi lisan. Relief lain yang menarik adalah pohon Kalpataru yang dalam agama Hindu dianggap sebagai pohon kehidupan, kelestarian dan keselarasan lingkungan. Di Prambanan relief pohon Kalpataru digambarkan mengapit singa. Keberadaan pohon ini membuat para ahli menganggap bahwa masyarakat abad kesembilan memiliki kearifan dalam mengelola lingkungannya.

 

Relief di dinding candi Prambanan, singa diapit oleh dua pohon Kalpataru yang juga masing-masing diapit oleh sepasang kinnaras  atau binatang.
GNU Free Documentation License
Wikipedia

 

Ravana menculik Sita dengan mengendarai  raksasa bersayap, sementara burung  Jatayu di sebelah kiri berusaha untuk menolongnya. 9 abad Prambanan pahatan-reliefs di candi didedikasikan untuk Shiva pada komplek candi Prambanan atau komplek candi Lara Jonggrang 
Pembuat : H. Bongers (Fotograaf / photographer).
Licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported

 

Prambanan ditemukan kembali oleh seorang warga negara Belanda bernama CA Lons pada tahun 1733 setelah seratus tahun diabaikan. Candi ini telah direnovasi dan sekarang dikenal sebagai candi Hindu paling indah di Indonesia.

 

Coolies  dengan kursi tandu di depan  reruntuhan candi Prambanan.
Pembuat : William Henry Jackson
Public domain – Wikipedia

 

Rekonstruksi candi candi di komplek candi Prambanan, dikarenakan gempa yang terjadi pada bulan May 2006
Pembuat : Nomo michael hoefner
Licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported

 

Keindahan dan kompleksitas arsitektur Prambanan sebagai bangunan yang sangat indah dinobatkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 1991.

 

Ramayana – Pertunjukan Seni di Candi Prambanan

Sendratari Ramayana adalah sebuah drama tari yang menceritakan kisah Ramayana, khususnya tentang Rama yang merupakan raja Hindu legendaris dan juga dapat dikatakan sebagai inkarnasi Dewa. Drama ini bercerita tentang Rama yang gagah berani. Pertunjukan ini diselenggarakan di halaman kawasan Candi Prambanan dalam bentuk tarian. Sendratari drama Ramayana di Prambanan biasanya diadakan pada priode bulan purnama untuk dinikmati oleh pengunjung pada berbagai tanggal dalam jangka waktu sekitar enam bulan. Para penari menunjukkan keterampilan menari mereka kepada para penonton dalam pakaian tradisional yang indah.

Sendratari Ramayana di Candi Prambanan berbeda dengan cerita aslinya dari India. Di Indonesia mencerminkan hasil adaptasi dengan budaya Jawa selama bertahun-tahun dan itu adalah salah satu pertunjukan tari terbaik di Indonesia.
Dalam acara ini tidak hanya musik dan tari secara hati-hati dipersiapkan, pencahayaan juga telah disiapkan secara rinci. Hal ini memberikan nilai lebih, karena cahaya tidak hanya cahaya obor, tapi banyak cahaya dari lampu yang dirancang untuk menggambarkan peristiwa dan suasana hati karakter.

Pemandangan malam hari panggung terbuka Trimurti Prambanan nightview 
Pembuat : Archiprez mosis
licensed under the Creative Commons Attribution 2.0 Generic

 

Tari Jawa yang mempertunjukkan sendratari Ramayana. Dalam adegan ini  Shinta (isteri Rama ,kedua dari kiri)  sebagai tahanan Raja Ravana di Istana Alengka, dia dikelilingi oleh para dayang dan pembantu istana.
Pembuat : Gunawan Kartapranata
Licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported

 

 

Sendratari Ramayana Prambanan memenangkan penghargaan internasional “PATA Gold Award 2012” mengalahkan 180 kontestan dari 79 negara dalam kategori “Warisan dan Budaya”, yang diperoleh pada konferensi tahunan Pacific Asia Travel Association (PATA) pada tahun 2012 di Kuala Lumpur, Malaysia, pada tanggal 21 April 2012.

 


Lihat Peta Lebih Besar

Sangkuriang, legenda Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat

Sangkuriang adalah legenda yang sangat populer di kalangan masyarakat Sunda (di tanah Sunda, Jawa Barat-Indonesia). Legenda ini menceritakan kisah seorang pemuda yang mencoba untuk memiliki cinta dari seorang wanita cantik yang ternyata ibunya sendiri. Cerita Sangkuriang menjadi legenda di balik kisah adanya Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat.

Pemandangan Gunung Tangkuban Perahu dari kejauhan

Tangkuban Perahu
Tangkuban Perahu
Pembuat : Feureau, Sumber: wikipedia
License: Creative Commons Attribution-Share Alike 2.5 Generic

 

Crater of Tangkuban Parahu
Kawah Tangkuban Parahu
Sumber: wikipedia, Pembuat : CHJL

Asap belerang yang keluar dari kawah

 

Pada zaman dahulu kala, di tanah Parahyangan (tanah Sunda), ada sebuah kerajaan yang sangat makmur. Rajanya suka berburu dengan ditemani anjingnya yang bernama “Tumang”.

Suatu hari, setelah seharian berburu, raja tidak mendapatkan hasil yang diharapkan. Hewan-hewan yang akan diburunya seperti menghilang. Dalam frustrasinya, Raja terkejut oleh gonggongan Tumang yang setelah dilihat ternyata anjingnya itu menemukan seorang bayi perempuan cantik, terbaring di antara pagar rumput. Raja sangat senang melihatnya, karena sudah cukup lama belum dikaruniai anak. Bayi perempuan itu kemudian diberi nama Dayangsumbi (Puteri Dayangsumbi).

Setelah tumbuh dewasa, Puteri Dayangsumbi menikah dan dikaruniai seorang putra yang bernama Sangkuriang, tapi sayangnya suami Dayangsumbi tidak memiliki umur yang panjang. Sangkuriang sangat suka berburuseperti kakeknya.

Suatu hari, Sangkuriang yang masih sangat muda pergi untuk berburu didampingi Tumang, anjing favorit rajayang juga favorit ibunya. Tetapi hari itu bukan merupakan hari yang baik, perburuan tidak mendapatkan hasil. Karena Sangkuriang telah berjanji untuk memberikan hati rusa kepada ibunya, sementara rusa itu tidak didapat, maka Sangkuriang membunuh Tumang dan mengambil hatinya, yang kemudian diberikan kepada ibunya.

Ketika Dayangsumbi akhirnya mngetahui bahwa hati rusa yang disajikan oleh anaknya adalah hati Tumang, anjing kesayangannya, ia menjadi sangat marah. Didorong oleh kemarahan, dengan tidak sengaja ia memukul kepala anaknya dengan sendok beras yang ada di dekatnya pada saat itu, tindakan itu menyebabkan cedera dan meninggalkan bekas di kepala Sangkuriang. Sangkuriang merasa usahanya untuk membuat ibunya senang tidak ada gunanya, dan dia merasa tidak bersalah. Dia berpikir kalau tidak ada hati rusa, hati anjingpun tidak menjadi masalah, dengan tanpa memikirkan kesetiaan Tumang yang telah mengabdikan hidupnya untuk melayani tuannya. Setelah kejadian itu Sangkuriang meninggalkan kerajaan dan kemudian menghilang.

Setelah kejadian itu Dayangsumbi merasa sangat menyesal, setiap hari ia selalu berdoa dan meminta kepada Tuhan untuk dapat bertemu kembali dengan anaknya. Di kemudian hari permintaannya itu akan terkabul dan oleh kasih karunia Tuhan juga, Dayangsumbi tetap awet muda.

Sangkuriang yang terus berpetualangan tumbuh menjadi seorang pemuda gagah dan kuat. Dia telah berhasil menaklukkan iblis yang kuat. Dalam perjalanan petualangannya, Sangkuriang tidak menyadari bahwa ia menuju ke kerajaan tempat ia berasal dan mempertemukannya pada seorang putri cantik, yang tidak lain putri Dayangsumbi, ibunya sendiri. Sangkuriang segera jatuh cinta dengan sang putri, Dayangsumbi juga terpesona oleh ketampanan dan kegagahan dari Sangkuriang. Lalu terjalinlah hubungan antara keduanya. Sangkuriang maupun Dayangsumbi saat itu tidak mengetahui bahwa mereka sebenarnya ibu dan anak. Sangkuriang akhirnya melamar Dayangsumbi untuk menjadi istrinya.

Suatu saat tabir terbuka, Dayangsumbi mengetahui bahwa pemuda itu adalah puteranya. Dia melihat bekas luka di kepalanya ketika dia membantu memperbaiki ikat kepala calon suaminya, Sangkuriang.

Setelah yakin bahwa Sangkuriang adalah anaknya, Dayangsumbi berusaha menggagalkan pernikahannya. Kemudian Dayangsumbi mengajukan dua syarat yang harus dipenuhi oleh Sangkuriang apabila ingin menikahinya, dengan batas waktu sebelum fajar (matahari terbit). Syarat pertama, Sangkuriang harus dapat membuat perahu besar. Syarat kedua, Sangkuriang harus dapat membuat danau yang dapat digunakan untuk perahu berlayar. Dayangsumbi berpikir bahwa Sangkuriang tidak akan berhasil memenuhi persyaratannya itu, yang sengaja diberikan agar tidak terjadi pernikahan antara ibu dan anak.

Sangkuriang setuju, ia bekerja lembur dibantu oleh kekuatan iblis yang pernah dikalahkan olehnya. Kayu kayu besar untuk membuat perahu dan untuk memblokir sungai Citarum ia dapatkan dari hutan di gunung, yang menurut kemudian gunung itu diberi nama Gunung Bukit Tunggul.

Sementara itu Dayangsumbi juga meminta Tuhan untuk membantunya menggagalkan keinginan Sangkuriang untuk menikahinya. Tuhan mengabulkan permohonan Dayangsumbi. Sebelum pekerjaan Sangkuriang selesai, ayam berkokok, dan fajar menyingsing. Sangkuriang menjadi sangat marah karena ia telah gagal. Ia menendang perahu yang telah dibuat. Perahu itu jatuh tertelungkup dan kemudian menjadi legenda Gunung Tangkuban Perahu (gunung yang berbentuk seperti perahu yang tertelungkup), sedangkan sungai yang dibendung oleh Sangkuriang untuk membentuk danau adalah sungai Citarum yang terletak di Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

 

 Illustrasi cerita Sangkuriang

Illustration of the story about Sangkuriang
Ilustrasi cerita tentang Sangkuriang
Lisensi Dokumentasi Bebas GNU
Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0.

 

Legenda Jaka Tarub dan Nawang Wulan

lisensi Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0.

Jaka Tarub adalah seorang pemuda yang kuat dan tampan. Dia sering keluar masuk hutan untuk berburu dan mendapatkan pengetahuan. Dia tinggal di sebuah desa dekat danau.

Suatu hari di malam bulan purnama ia masuk ke dalam hutan, dari kejauhan ia mendengar samar-samar suara perempuan yang sedang bercanda. Didorong oleh rasa ingin tahu, ia pergi mencari arah suara itu, sampai akhirnya ia menemukan sebuah danau yang sangat indah di tengah-tengah hutan dan 7 wanita yang sangat cantik yang sedang mandi dan bercanda. Perlahan-lahan Jaka Tarub berjalan. Ia menemukan beberapa pakaian dan selendang mereka yang tersebar di sekitar danau. Setelah memilih ia mengambil salah satu dan menyembunyikannya.

Beberapa waktu berlalu, dan 7 wanita yang ternyata bidadari itu harus kembali ke tempat asalnya. 6 dari mereka mengenakan pakaian dan selendangnya dan kemudian terbang ke langit di kegelapan malam. Jaka Tarub baru tersadar bahwa para wanita adalah bidadari dari khayangan, tapi salah satu bidadari tertinggal di danau karena ia kehilangan pakaian dan selendangnya sehingga dia tidak bisa terbang dan pulang. Dia adalah bidadari termuda yang bernama Nawang Wulan, yang menurut legenda sekarang dikenal sebagai Nyai Roro Kidul (Ratu Pantai Selatan)

Nawang Wulan sangat sedih kemudian ia bersumpah: “Jika ada yang menemukan pakaian dan selendang saya, jika ia seorang pria, saya akan menjadikan dia sebagai suami, dan jika seorang wanita saya akan menjadikan dia sebagai kakak perempuan”. Jaka Tarub kemudian muncul dan menghiburnya. Ia memberikan selembar kain untuk digunakan oleh Nawang Wulan, tetapi ia tetap menyembunyikan pakaian dan selendangnya supaya dia tidak bisa terbang kembali ke khayangan dan meninggalkan dirinya. Nawang Wulan kemudian memenuhi sumpahnya dan menikahi Jaka Tarub.

Ada versi lain dimana Nawang Wulan tidak bersumpah seperti itu. Ketika ia menangis di danau, Jaka Tarub segera muncul, menghiburnya, dan menawarkan tempat tinggal untuk Nawang Wulan sampai kemudian akhirnya mereka menikah dan memiliki seorang putri, bernama Nawangsih.

Selama pernikahan Nawangwulan selalu menggunakan kekuatan supranaturalnya. Satu butir beras dapat dimasaknya menjadi satu keranjang nasi. Suatu hari Jaka Tarub melanggar larangan dari Nawang Wulan untuk tidak membuka tutup dandang nasi. Dikarenakan hal itu akibatnya Nawang Wulan kehilangan kekuatan supranaturalnya. Sejak itu ia harus memasak nasi seperti layaknya perempuan biasa (tanpa kekuatan supranatural) dan oleh karena itu persediaan beraspun berkurang.

Ketika suatu hari Nawang Wulan hendak mengambil padi yang akan ditumbuk, ia melihat sepotong kain mencuat dibalik tumpukan beras. Setelah mengamatinya, Nawang Wulan akhirnya mengetahui bahwa itu adalah pakaian bidadarinya dan bahwa selama ini  Jaka Tarub yang menyembunyikannya. Karena isi lumbung yang terus menurun, akhirnya dia bisa menemukan pakaiannya kembali.

Nawang Wulan marah mengetahui bahwa suaminya telah berbohong, maka ia mengenakan pakaian dan selendangnya kembali dan mengucapkan selamat tinggal kepada suaminya serta memintanya untuk merawat putri mereka. Jaka Tarub memohon untuk tidak meninggalkannya dan kembali ke khayangan, namun keputusan Nawang Wulan sudah bulat, hanya demi Nawangsih putrinya ia akan turun ke bumi. Dia terbang ke khayangan meninggalkan Jaka Tarub yang menangis dalam penyesalan.

Beberapa cerita legenda Indonesia

Legenda adalah cerita orang-orang di zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa bersejarah yang berkaitan dengan cerita terkenal dan dikenang oleh banyak orang sampai saat ini. Legenda diceritakan dari generasi ke generasi, terkait dengan perjuangan, kepahlawanan yang berguna dan membangkitkan semangat semangat.
Legenda yang ada di Indonesia begitu banyak, seperti cerita rakyat dan mitos dan merupakan salah satu langkah untuk menelusuri sejarah dari tradisi masyarakat Indonesia di masa lalu.

Beberapa Legenda Indonesia yang dikenal banyak orang :