Tag Archives: Borneo

Perang etnis Dayak-Madura di Palangkaraya, Kalimantan Tengah Indonesia

Kerusuhan di Sampit hanya serangkaian kerusuhan yang terjadi dengan etnis Madura , sejak berkembangnya daerah Kalimantan Tengah dan lebih dari 16 kali pergolakan besar terjadi juga kerusuhan kecil yang mengorbankan banyak orang-orang yang bukan berasal dari Madura.

Warga bukan Madura selalu mengalah sedangkan  orang Madura  bangga pada tindakan-tindakan mereka yang tidak baik dan mengerikan, menggunakannya untuk meneror, mengendalikan sendi ekonomi, sosial, budaya dan masyarakat penduduk Kalimantan Tengah.

Di tepi sungai jika suku Dayak merasa terganggu, mereka pergi ke pedalaman, jika di sana mereka diberi kesulitan, mereka pergi ke bukit, kalau di bukit mereka mendapat masalah, mereka pergi ke gunung dan jika di gunung mereka juga terganggu mereka pergi ke tepi jurang. Di tepi jurang mereka tidak bisa pergi ke mana pun sehingga mereka membela diri.

 

Salah satu suku Dayak 
GNU Free Documentation License

 

Suku Dayak diperlakukan tidak adil dan kurangnya perhatian terhadap pembangunan daerah mereka. Mereka juga dituduh sebagai perusak hutan dan lingkungan dan dicap sebagai suku terbelakang. Berbagai sebutan menyedihkan yang menandai kehidupan masyarakat Dayak.

Suku Dayak telah memberikan hutan, tanah dan air untuk kehidupan orang lain, tambang, kayu, rotan, dan hasil alami untuk membuat banyak orang Jawa kaya, termasuk orang Madura. Mereka menjadi tempat untuk menampung semua penderitaan kelompok etnis lain sehingga orang lain merasa puas dan bahagia. Populasi penduduk di Kalimantan Tengah terus bertambah, sedangkan masyarakat Dayak mengikuti Program Keluarga Berencana untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam rangka mengurangi pertumbuhan penduduk. Orang-orang Madura mencoba untuk memiliki anak sebanyak mungkin dan memastikan sumber daya alam dari Kalimantan Tengah akan tersedia bagi mereka yang berani dan mempunyai tekad yang kuat.

Pemicu Kerusuhan

  • Proses marjinalisasi dan kemiskinan yang terjadi di Central Kalimantan, baik dari segi pemanfaatan sumber daya alam, ketidakadilan Pembangunan Daerah dan ketidakadilan perlindungan hak-hak hidup, ditambah ketidakmampuan etnis Madura untuk mentolerir hampir setiap aspek dalam kehidupan Dayak Kalimantan Tengah.
  • Adanya budaya arogansi orang Madura yang meremehkan budaya lokal Dayak, menyebabkan berbagai gesekan yang tidak pernah sepenuhnya terselesaikan baik oleh masyarakat ataupun pemerintah. Akumulasi gesekan dan perseteruan memicu perkelahian massal yang memuncak dan membesar dari waktu ke waktu.
  • Kecenderungan orang Madura itu membawa kenalan, keluarga, kerabat dan komunitas lain dari tempat asalnya untuk pergi ke Kalimantan. Dengan kurangnya pendidikan, perilaku kriminal dan tanpa seleksi sebelumnya membuat Kalimantan Tengah mendapatkan orang-orang Madura yang tidak potensial dan banyak melakukan hal-hal yang tidak toleran terhadap hampir semua aspek kehidupan orang Dayak. Seperti salah satunya adalah pemerkosaan terhadap gadis dayak.
  • Kecenderungan suku Madura untuk melindungi warga mereka yang telah melakukan kejahatan terhadap suku Dayak, menyebabkan akumulasi kebencian dan menjadi masalah yang sudah berakar di antara warga non Madura di Kalimantan Tengah.
  • Suku Dayak Kalimantan Tengah sudah sangat toleran terhadap orang Madura, sehingga pada beberapa keluarga Dayak telah menerima anaknya menikah dengan orang Madura.
  • Usaha untuk memprovokasi dari beberapa tokoh kepada orang-orang Madura tanpa mengetahui sejarah dari kerusuhan.
  • Ada juga upaya dari tokoh-tokoh Madura yang mendorong komunitas agama untuk berseteru dan mengatakan bahwa masalah di kota Sampit adalah pemusnahan umat Islam.

 

Konflik Ethics 2001

Tahun 2001 adalah puncak kerusuhan antar etnis Dayak dan Madura yang sebenarnya dimulai pada tahun 1999. Konflik awal terjadi pada tahun 1999, tepatnya pada tanggal 23 September malam. Perkelahian yang terjadi di karaoke yang terletak di perbatasan Tumbang Samba (desa di Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia), menewaskan Tue Iba, salah satu Dayak Manyan yang dibantai oleh sekelompok orang Madura. Suku Dayak yang marah karena  Iba Tue yang tidak bersalah meninggal kemudian membalas dendam dengan membakar rumah dan peternakan orang Mdura di Tumbang Samba.

Didahului insiden itu, pembakaran meluas ke hampir setiap desa. Pada saat itu pemerintah berusaha mengevakuasi 37 warga madura dari daerah konflik (Tumbang Samba) untuk mencegah korban yang lebih besar. Setelah itu, situasi menjadi lebih tenang.

Setahun kemudian, pada tanggal 6 Oktober 2000, ada pemukulan oleh sekelompok orang Madura terhadap masyarakat Dayak yang bernama Sendung di daerah 19 kilometer Kabupaten Katingan. Sendung meninggal dalam keadaan tragis. Merasa marah, suku Dayak akhirnya “menyapu” orang-orang Madura, korban jauh lebih besar dari tahun 1999, bus yang dimiliki oleh orang Madura dibakar sedangkan penumpangnya ( orang Madura) disekap di dalam lalu dibunuh. Upaya pemerintah pada waktu itu adalah melalui mediasi melalui upacara suku Dayak untuk membuat konflik tidak berkelanjutan.

Empat bulan kemudian, pada tanggal 18 Februari 2001, kerusuhan skala besar terjadi. “Situasi sudah diketahui tidak stabil, tapi orang-orang masih sangat terkejut. Minggu pagi (18 Februari), rumah Sehan dan Dahur yang berasal dari suku Dayak Manyan dikepung oleh orang Madura. Sehan sudah pensiun dari militer pada waktu itu. Pengepungan berakhir dengan pembakaran rumah dan keluarga mereka. Sepuluh orang tewas pagi itu.

Pembakaran, pembantaian terjadi di siang hari. Polres dan TNI bekerja sama untuk mengevakuasi warga Sampit ke Palangkaraya. Di tengah-tengah perang yang mulai berkecamuk, pada Senin malam jam 10.25, serangan balik dilakukan oleh suku Dayak. Itu berlangsung seminggu penuh, tidak terhitung berapa banyak rumah yang terbakar dan leher terputus selama perang terjadi. Sampai seminggu sudah 18 kali upaya untuk mengevakuasi warga Madura ke Surabaya. Total warga pengungsi mencapai jumlah 57 000 jiwa.

Para pengungsi diangkut menggunakan perusahaan pelayaran militer dan kapal swasta. Mereka diangkut ke pulau Madura. Sampai sekarang masih tersimpan dalam memori warga Sampit  tentang sungai Mentaya yang penuh dengan mayat tanpa kepala  dan tentu saja bau anyir darah tercium sampai satu bulan setelah kerusuhan. Tidak ada perhitungan pasti total jumlah korban.

 

Sungai Mentaya di  Sampit,  Kalimantan Tengah, Indonesia
Pembuat : Wibowo Djatmiko
Public domain

 

Ketika kerusuhan terjadi, markas Madura terkonsentrasi di Sarigading dan Hotel Rama Road. Wajar jika mayat terbesar kemudian ditemukan di kedua tempat. Suasana mengerikan berlanjut hingga satu bulan setelah kerusuhan, Sampit berubah menjadi kota hantu, bau busuk menyengat. Tubuh tanpa kepala bergelimpangan di setiap sudut jalan. Mayat korban kerusuhan akhirnya dimakamkan di kuburan massal di kilometer 13,8 Jalan Jenderal Sudirman.

Saat ini mereka yang menjadi korban kekerasan perlahan kembali ke tempat mereka yang dulu. Saya salut kemampuan orang Madura dalam hal pekerjaan, mereka memulai semuanya dari nol lagi, kerja keras mereka tanpa batas, jika berbicara tentang perasaan, sekelompok kecil warga Madura layak untuk mengeluh. Mereka yang tidak tahu apa-apa harus menjadi korban, dilucuti semua harta, tapi setidaknya dari sejarah yang sangat menyakitkan, sekarang mereka tahu bagaimana membangun hubungan yang baik dengan masyarakat setempat.

 

Kunjungan ke salah satu desa suku Dayak dan sedikit cerita tentang kerusuhan Sampit dari Tetua suku 

 

Seni Pertunjukan Ilmu Bela diri Madura

 

Korban Kerusuhan Konflik Suku Dayak dan orang Madura

PERHATIAN!
MINIMUM USIA 18 tahun yang disarankan untuk melihat video di bawah ini !

Video berikut memperlihatkan korban perkelahian yang brutal, bahkan orang-orang dewasa terkejut dengan ditampilkannya korban dan sebagian besar korban dipastikan tewas  oleh senjata sederhana berupa pisau panjang atau pedang (Senjata Tradisional).

Tujuan menampilkan video ini di sini adalah untuk memberikan bukti tentang fakta-fakta yang diuraikan sebelumnya dan tentang kekejaman akibat konflik tersebut. Kami melihat fakta dari video tersebut yang menunjukkan hampir atau benar-benar hanya satu sisi korban dan hal itu dapat digunakan sebagai propaganda terhadap suku Dayak.

Kami sangat merekomendasikan untuk membaca seluruh artikel ini dengan seksama agar dapat memahami alasan suku Dayak untuk melawan dan mempertahankan diri mereka, walaupun korban yang juga anak-anak dan wanita tetap sulit untuk ditoleransi. Kami tidak membela pihak suku Dayak atau orang Madura dalam konflik ini, tetapi kami ingin menginformasikan tentang fakta-fakta tanpa menyembunyikan kekejaman atau kelakuan buruk dari semua pihak.

 

 

 Sampit, Central Borneo



 

Lokasi Sampit di Kalimantan Tengah dan Pulau Madura 

Pulau Kalimantan (Borneo), Indonesia

(Diperbaharui pada 16 April, 2013)

Borneo (Kalimantan) adalah salah satu pulau terbesar di dunia, berlokasi  di bagian tenggara semenanjung Malaya. Pulau ini dibatasi oleh Laut Cina Selatan (barat laut) dan, Laut Sulu, Sulawesi (Selat Makassar) dan laut Jawa. Di tahun  1963 bergabung dengan persekutuan Malaysia, dan juga Kesultanan Islam (kerajaan) dari Brunei. Populasi penduduk di pulau tersebut pada tahun 1990 diperkirakan mencapai 12.305 juta orang, yang mana jumlah penduduk Kalimantan, Sabah dan Serawak adalah 12.046 juta dan Brunei 259 juta jiwa.

 

Peta Pembagian area pulau Kalimantan

Map of Borneo, based on information from several maps. Light yellow = Indonesia Light orange = Malaysia Green = Brunei Berkas ini berasal dari Wikimedia Commons
Peta pulau Kalimantan berdasarkan dari beberapa peta
Kuning muda = Indonesia
Oranye muda= Malaysia
Hijau = Brunei
Berkas ini berasal dari Wikimedia Commons

 

 Sebagian besar area pulau Kalimantan adalah Indonesia



Borneo (Kalimantan) adalah pulau yang terdiri dari  pegunungan dan sebagian besar ditutupi oleh hutan hujan. Gunung Kinabalu, di timur laut, meluas ke daerah barat daya menuju ke banjaran Crocker, Nieuwenhuis (nama seorang penjelajah Belanda yang melakukan perjalanan secara ekstensif di pusat Kalimantan pada 1890) dan pegunungan Muller. Sebagian besar penghidupan penduduk pulau Kalimantan disuply oleh sungai-sungai mereka, mereka bertahan hidup hanya dengan perdagangan. Iklim khatulistiwa yang panas dan lembab dengan pembagian dua musim, musim hujan antara Oktober sampai Maret dan musim yang relatif  kering atau sejuk di musim berikutnya (sisa tahun).

Curah hujan rata-rata sekitar 150 inci (3800 mm) per tahun. Baik bunga dan fauna di Kalimantan sangat bervariasi, antara lain: Rafflesia (bunga terbesar di dunia), orangutan, macan tutul, gajah, badak, dan berbagai jenis serangga. Kinabalu dan Taman Nasional Gunung Mulu adalah kawasan konservasi di mana spesies hewan langka dilindungi, direhabiltasi dan dikembalikan kembali ke populasinya yang sehat.

Di kabupaten Sarawak, Sabah dan Kalimantan, wisatawan dapat mengunjungi Pusat Rehabilitasi Orangutan di mana banyak diantara mereka yang telah yatim piatu atau diselamatkan dengan berbagai cara, yang dipersiapkan untuk melepas mereka kembali ke hutan hujan Kalimantan. Banyak dari cagar alam Borneo menjalankan proyek relawan yang berperiode antara 2 minggu sampai 3-6 bulan, relawan dapat terlibat langsung dalam melestarikan hewan-hewan langka yang berharga.

Pulau ini tidak hanya dihuni oleh standar orang Melayu, tetapi penduduk pulau ini sangat bervariasi. Seperti misalnya suku Dayak, (Suku ini dikenal sebagai leluhur beragam masyarakat Kalimantan yang saat ini dikenal secara kolektif sebagai orang Dayak dan dikembangkan di masing-masing lingkungan mereka), Muslim Melayu, Cina dan mungkin sebagian kecil dari Eropa.

 

Keterangan lebih detail mengenai Kalimantan atau Borneo bisa dilihat di Wikipedia.