Category Archives: Peta

Trip ke Hutan Hujan Kalimantan

Perjalanan kami dari Banjarmasin di Kalimantan Selatan menuju hutan hujan di Kalimantan Tengah membutuhkan waktu sekitar 5 jam. Kami melewati jembatan sungai Barito, salah satu sungai besar di Kalimantan dan sungai terpanjang di Kalimantan Selatan, sekitar 600 mill. Air dari Sungai Barito turun dari dataran tinggi Gunung Meratus, dan merupakan jalur penting antara pantai dan daratan di Kalimantan Selatan. Air dari Sungai Barito berlumpur dikarenakan membawa lumpur dan sampah dari daratan.

Di Jembatan sungai Barito

Di gerbang penyewaan perahu untuk menuju ke hutan hujan, tempat orang Dayak & Orang Utan

Perjalanan perahu untuk melihat Dayak modern, Orangutan dan bagian dari hutan hujan  di Indonesia.

Untuk perjalan ke hutan hujan tempat ini untuk melihat orang utan, suku Dayak, kami harus menyewa perahu. Harga perahu beragam sesuai dengan ukuran dan jenis kapal. Harga perahu kami termasuk mahal, karena kami memilih kapal yang lebih pribadi (tidak digabungkan dengan orang lain). Dari perahu kita bisa melihat rawa-rawa bakau dan dataran rendah hutan hujan, hutan yang lebat dan juga beberapa orangutan.

Pemandangan di Hutan Hujan

Pada saat hujan turun

Di perahu dalam perjalan ke hutan hujan

Sungai Kahayan, sungai hutan hujan memiliki kekayaan ekologi dan budaya yang bertahan jauh di dalam hutan hujan. Daerah ini terisolasi, tapi wisatawan bisa bertualang di sepanjang sungai. Anda bisa menemukan orang-orang Dayak, namun beberapa dari mereka sudah mengalami modernisasi.

 

Orangutan menutupi kepala mereka dengan kertas yang mereka temukan di sekitar mereka ketika hujan turun

Orangutan di pohon-pohon hanya bisa kita lihat dari jauh, para penjaga hutan di daerah itu tidak mengizinkan perahu-perahu untuk lebih mendekat, karena pada apabila air sungai sedang surut bisa menyebabkan perahu karam dan juga untuk menghindari orangutan melompat ke dalam perahu. Hal Itu akan sangat berbahaya, karena kita tidak pernah bisa memprediksi apa yang akan terjadi.

 

Jembatan yang berada di Palangkaraya yang sempat kami lihat pada saat kami memulai perjalanan

Peta ini menunjukkan jembatan dan tempat pendaratan perahu. Perahu mengambil jalan di bawah jembatan ke bagian utara sungai.

Keindahan dan Legenda Kawah Putih-Ciwidey di Bandung Selatan

Kawah Putih (White Crater) adalah salah satu dari dua kawah yang membentuk Gunung Patuha di Jawa Barat Indonesia.

 

Lokasi kawah putih yang tampak di  peta, di Bandung Selatan- Ciwidey

 

Keindahan danau  kawah putih

 

Pohon yang tumbuh di danau kawah putih

 

Asap yang keluar dari danau

Patuha dianggap oleh masyarakat Ciwidey sebagai gunung tertua. Kata “Patuha” konon berasal kata tua (sepuh), sehingga masyarakat setempat menyebutnya dengan nama Gunung Sepuh. Lebih dari satu abad yang lalu Gunung Patuha dianggap angker, sehingga tidak ada yang berani untuk pergi kesana dan oleh karena itu keberadaan dan keindahan gunung tersebut tidak diketahui oleh masyarakat.

 

Cerita Legenda Kawah putih yang terpampang dalam bingkai besar di dapan kawasan kawah putih

 

Menurut catatan sejarah, gunung Patuha pernah meletus pada abad kesepuluh, menyebabkan kawah yang berbahaya di  sebelah Barat atas. Pada abad kedua belas, kawah di sebelah kiri juga meletus, yang kemudian membentuk danau yang indah.

Pada tahun 1837, seorang Belanda keturunan Jerman bernama Dr Franz Wilhelm Junghuhn (1.809-1.864), melakukan perjalanan ke bagian selatan wilayah Bandung. Ketika ia tiba di daerah tersebut Junghuhn merasakan suasana yang sangat tenang dan sepi, satwa liar sangat sedikit. Kemudian ia bertanya tentang fenomena ini kepada masyarakat setempat, dan ia mendapat informasi bahwa gunung itu sangat menakutkan, karena di tempat itu tinggal nenek moyang mereka, dan juga kerajaan jin (setan), dan menurut anggapan mereka jika ada burung yang berani terbang di atas daerah itu, maka burung tersebut akan jatuh dan mati.

Namun Beliau tidak percaya pada cerita masyarakyat setempat dan melanjutkan perjalanannya melalui padang gurun di gunung itu untuk membuktikan apa yang sebenarnya terjadin di daerah itu, tapi sebelum sampai ke puncak gunung, Junghuhn tertegun, mengagumi pesona alam yang begitu indah di depannya, tampak sebuah danau yang besar, dengan airnya yang berwarna putih kehijauan. Dari danau, bau belerang sangat terasa, jadi jelaslah sudah mengapa burung tidak akan terbang melintasinya.

Setelah semuanya jelas, mulailah tambang belerang kawah putih didirikan (Zwavel Ontgining, Putih Kawah). Dalam era pendudukan Jepang, upaya dilanjutkan dengan judul “Kawah Putih Ciwidey Kenzanka Yokoya” langsung di bawah pengawasan militer.

Menurut Abah Kuncen Karna yang saat ini kurang lebih berumur 105 tahun pada saat menulis artikel ini dan tinggal di desa Pasir Hoe, Desa Sugih Mukti, mengatakan bahwa di kawah putih terletak makam leluhur.

Di puncak puncak gunung Patuha, yaitu Kapak gunung dipercaya sebagai tempat pertemuan para leluhur. Di tempat ini, kadang-kadang masyarakat melihat (dengan cara supranatural) sekelompok domba berbulu putih, yang diyakini sebagai manifestasi dari nenek moyang.

Pemandangan alam di sekitar kawah putih cukup indah, dengan air kehijauan-putih yang kontras dengan batu kapur yang mengelilingi danau. Di bagian utara danau berdiri tegak tebing kapur abu-abu, yang ditumbuhi lumut dan tanaman lainnya.

 

The cliff in white crater, which is filled with plants

 

Kawah putih dengan tebing yang mengelilinginya

 

Franz Wilhelm Jungjuhn sudah lama meninggal, tetapi penemuannya yang dikenal dengan nama Kawah Putih (Kawah Putih) tidak akan terupakan dan saat ini menjadi objek wisata yang indah bagi para wisatawan.

 

Kabut yang mulai turun

 

Pemandangan yang sangat menakjubkan

 

Betul-betul danau yang indah dari Kawah putih 

 

Di daerah Kawah Putih Danau ada sebuah gua, warisan dari era kolonial Belanda. Di depan gua ada peringatan untuk tidak berlama lama di depan gua. Alasan logisnya adalah karena gas yang keluar dari gua tentunya terkait dengan kandungan sulfur di daerah itu yang dapat menyebabkan orang keracunan oleh gas itu.

 

Gua peninggalan Kolonial Belanda 

 

Berpose sesaat di depab gua 🙂

 


View Larger Map

Pulau Kalimantan (Borneo), Indonesia

(Diperbaharui pada 16 April, 2013)

Borneo (Kalimantan) adalah salah satu pulau terbesar di dunia, berlokasi  di bagian tenggara semenanjung Malaya. Pulau ini dibatasi oleh Laut Cina Selatan (barat laut) dan, Laut Sulu, Sulawesi (Selat Makassar) dan laut Jawa. Di tahun  1963 bergabung dengan persekutuan Malaysia, dan juga Kesultanan Islam (kerajaan) dari Brunei. Populasi penduduk di pulau tersebut pada tahun 1990 diperkirakan mencapai 12.305 juta orang, yang mana jumlah penduduk Kalimantan, Sabah dan Serawak adalah 12.046 juta dan Brunei 259 juta jiwa.

 

Peta Pembagian area pulau Kalimantan

Map of Borneo, based on information from several maps. Light yellow = Indonesia Light orange = Malaysia Green = Brunei Berkas ini berasal dari Wikimedia Commons
Peta pulau Kalimantan berdasarkan dari beberapa peta
Kuning muda = Indonesia
Oranye muda= Malaysia
Hijau = Brunei
Berkas ini berasal dari Wikimedia Commons

 

 Sebagian besar area pulau Kalimantan adalah Indonesia



Borneo (Kalimantan) adalah pulau yang terdiri dari  pegunungan dan sebagian besar ditutupi oleh hutan hujan. Gunung Kinabalu, di timur laut, meluas ke daerah barat daya menuju ke banjaran Crocker, Nieuwenhuis (nama seorang penjelajah Belanda yang melakukan perjalanan secara ekstensif di pusat Kalimantan pada 1890) dan pegunungan Muller. Sebagian besar penghidupan penduduk pulau Kalimantan disuply oleh sungai-sungai mereka, mereka bertahan hidup hanya dengan perdagangan. Iklim khatulistiwa yang panas dan lembab dengan pembagian dua musim, musim hujan antara Oktober sampai Maret dan musim yang relatif  kering atau sejuk di musim berikutnya (sisa tahun).

Curah hujan rata-rata sekitar 150 inci (3800 mm) per tahun. Baik bunga dan fauna di Kalimantan sangat bervariasi, antara lain: Rafflesia (bunga terbesar di dunia), orangutan, macan tutul, gajah, badak, dan berbagai jenis serangga. Kinabalu dan Taman Nasional Gunung Mulu adalah kawasan konservasi di mana spesies hewan langka dilindungi, direhabiltasi dan dikembalikan kembali ke populasinya yang sehat.

Di kabupaten Sarawak, Sabah dan Kalimantan, wisatawan dapat mengunjungi Pusat Rehabilitasi Orangutan di mana banyak diantara mereka yang telah yatim piatu atau diselamatkan dengan berbagai cara, yang dipersiapkan untuk melepas mereka kembali ke hutan hujan Kalimantan. Banyak dari cagar alam Borneo menjalankan proyek relawan yang berperiode antara 2 minggu sampai 3-6 bulan, relawan dapat terlibat langsung dalam melestarikan hewan-hewan langka yang berharga.

Pulau ini tidak hanya dihuni oleh standar orang Melayu, tetapi penduduk pulau ini sangat bervariasi. Seperti misalnya suku Dayak, (Suku ini dikenal sebagai leluhur beragam masyarakat Kalimantan yang saat ini dikenal secara kolektif sebagai orang Dayak dan dikembangkan di masing-masing lingkungan mereka), Muslim Melayu, Cina dan mungkin sebagian kecil dari Eropa.

 

Keterangan lebih detail mengenai Kalimantan atau Borneo bisa dilihat di Wikipedia.