Malin Kundang legenda dari pulau Sumatera

Malin Kundang adalah cerita rakyat yang berasal dari Sumatera Barat dan merupakan salah satu legenda Indonesia yang mempunyai pesan moral. KisahMalin Kundang menceritakan tentang anak yang durhaka pada ibunya dan karena itu ia dikutuk menjadi batu. Suatu bentuk batu yang terletak di “Pantai Air Manis”, Padang, Sumatera Barat-Indonesia.

 

Pantai Air Manis, tempat terdapatnya batu Malin Kundang Sumber :Flickr: The Legend of Malinkundang - West Sumatra Pembuat : Makka Kesuma Dibawah lisensi Creative Commons Atribusi 2.0 Generik
Pantai Air Manis, tempat terdapatnya batu Malin Kundang
Sumber : Flickr: The Legend of Malinkundang – West Sumatra
Pembuat : Makka Kesuma
Dibawah lisensi Creative Commons Atribusi 2.0 Generik

 

 

Malin Kundang tinggal di keluarga nelayan miskin. Karena kondisi keuangan yang buruk, ayahnya memutuskan untuk mencari nafkah ke luar negeri, mengarungi lautan. Setelah ditinggalkan oleh ayahnya, Malin Kundang tinggal sendirian bersama ibunya di gubuk mereka. Ayah Malin tidak kembali lebih dari satu tahun, sehingga ibunya harus menggantikan ayah Malin untuk mencari nafkah. Malin adalah anak yang cerdas tetapi sedikit nakal, ia sering mengejar ayam-ayam dan memukuli mereka dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu sehingga lengan kanannya terluka dan meninggalkan bekas luka.

Merasa kasihan pada ibunya yang bekerja keras untuk mencari nafkah untuk membesarkannya, Malin memutuskan untuk pergi mengembara dengan tujuan menjadi kaya setelah pulang nanti. Pada awalnya ibu Malin Kundang tidak setuju mengingat suaminya juga tidak pernah kembali setelah pergi mengembara, namun Malin bersikeras, sehingga akhirnya ibunya menyerah dan membiarkan Malin pergi, naik kapal milik pedagang. Selama tinggal di kapal Malin Kundang belajar tentang ilmu berlayar pada awak kapal yang telah berpengalaman.

Dalam perjalanannya, tiba-tiba kapal yang ditumpangi Malin Kundang kapal diserang oleh bajak laut. Semua barang dagangan pedagang yang berada di kapal dibajak oleh perompak. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang di kapal tersebut dibunuh oleh bajak laut. Malin Kundang beruntung, ia bersembunyi di ruang kecil tertutup oleh kayu sehingga ia aman.

Malin Kundang terkatung-katung di tengah laut, sampai akhirnya kapal itu terdampar di pantai. Dengan energi yang tersisa, Malin Kundang berjalan ke desa terdekat. Ia menemukan sebuah desa yang sangat subur dan ia mulai bekerja disana. Dengan kegigihannya dalam bekerja, Malin akhirnya menjadi orang kaya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya Malin Kundang menikah.

Berita tentang Malin Kundang yang telah menjadi kaya dan telah menikah sampai ke telinga ibunya. Dia sangat bersyukur dan bahagia bahwa anaknya telah berhasil. Sejak itu setiap hari ia pergi ke dermaga menunggu anaknyayang mungkin kembali ke kampung halamannya.

Setelah beberapa tahun pernikahannya, Malin dan istrinya berlayar, didampingi oleh kru kapal dan banyak pengawal. Ibu Malin melihat kedatangan kapal ke dermaga, ia melihat dua orang berdiri di dek. Dia percaya bahwa anak dan istrinya yang berdiri di sana.

Dia menuju ke kapal dan pada saat jaraknya cukup dekat dengan anaknya, dia melihat bekas luka di lengan kanannya, ia semakin yakin bahwa itu adalah Malin dan ia mendekat, memeluk dan bertanya: “Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar? “. Melihat seorang wanita tua berpakaian kotor memeluknya, Malin Kundang menjadi marah meskipun dia tahu bahwa wanita tua itu ibunya, dia malu jika hal tersebut diketahui oleh istri dan krunya.

Mendapat perlakuan seperti itu dari anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Dia tidak menduga bahwa anaknya bisa menjadi anak durhaka. Karena kemarahan memuncak, ia mengutuk anaknya dan berkata : “Oh Tuhan, jika dia adalah anak saya, saya mengutuknya menjadi batu.”

Tidak lama setelah itu Malin Kundang kembali berlayar, namun di tengah perjalanan datang badai dahsyat menghancurkan kapalnya. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan secara bertahap membentuk menjadi terumbu karang. Sampai saat ini batu Malin Kundang masih dapat dilihat di sebuah pantai yang disebut “Pantai Aia Manih” (bahasa Padang) atau “Pantai Air Manis”, yang terletak di selatan kota Padang, Sumatera Barat.

 

Pemandangan Gunung dan laut di Padang, Sumatera Barat, Indonesia

 

Tempat lokasi batu Malin Kundang di Padang



Leave a Reply